Sabtu, 11 Mei 2013

Menjadi Sebaik Manusia




Rasulullah SAW bersabda, @ "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain, berakhlak mulia, mempelajari Al Quran dan mengajarkannya, serta orang yang umurnya panjang dan banyak amal kebajikannya." @ "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, memuliakan tetangga dan memuliakan tamunya." @ "Katakanlah yang Hak (benar) Walau Kadang Menyakitkan"

6 Prinsip Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW

Seorang pemimpin dinilai bagaimana dia bersikap dan bertindak dalam kepemimpinannya. Salah satu yang terpenting adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dan membuat kebijakan, efektifitas sebuah kebijakan dan bagaimana dampak atas kebijakan tersebut.

Sebuah keputusan lahir dari sebuah proses berpikir. Bermula dari cara pandang seseorang dalam menilai sesuatu yang kemudian berpengaruh terhadap cara berpikirnya. Cara berpikir yang dilandasi cara pandang tadi akan menjadi penentu, tepat atau tidaknya keputusan seorang pemimpin dalam mengambil kebijakan.

Kebijakan seorang pemimpin seringkali berpengaruh terhadap banyak orang dan ruang lingkup serta waktu yang lebih luas. Kesalahan dalam mengambil sebuah keputusan dalam memilih sebuah kebijakan akan berujung pada kegagalan suatu program atau bahkan kehancuran sebuah negara dan bangsa.


Bagaimana cara Nabi Muhammad SAW  berpikir?
Sebagian besar dari kita pernah mendengar tentang kepemimpinan seorang Muhammad saw. Dalam masa 22 tahun beliau sanggup mengangkat derajat bangsa Arab dari bangsa jahiliah yang diliputi kebodohan dan keterbelakangan menjadi bangsa terkemuka dan berhasil memimpin banyak bangsa di dunia. Orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya merasakan kelembutan, kasih sayang dan penghormatan dari seorang pemimpin bernama Muhammad.

Cara berpikir Muhammad saw yang lurus terlahir dari cara pandangnya yang juga lurus terhadap hidup dan kehidupan ini. Cara berpikir yang lurus tadi menghasilkan sebuah keputusan yang tepat sekaligus dapat diterima semua pihak.
Inilah cara berpikir Muhammad saw tersebut :

1. Beliau menomorsatukan fungsi sebagai landasan dalam memilih orang atau sesuatu, bukan penampilan atau faktor-faktor luar lainnya.
Keempat sahabat yang dikenal sangat dekat dengan Beliau, yakni Abu Bakar Assidiq, Umar ibnu Khattab, Ustman ibnu Affan dan Ali ibnu Abi Tholib adalah gambaran jelas kemampuan Muhammad saw dalam melihat fungsi. Keempat sahabat tersebut memiliki fungsi sendiri-sendiri dalam era kepemimpinan Muhammad saw, yaitu :
  • Abu Bakar Assidiq yang bersifat percaya sepenuhnya kepada Muhammad saw, adalah sahabat utama. Ini bermakna kepercayaan dari orang lain adalah modal utama seorang pemimpin.
  •  Umar ibnu Khattab bersifat kuat, berani dan tidak kenal takut dalam menegakkan kebenaran. Ini bermakna kekuasaan akan efektif apabila ditunjang oleh semangat pembelaan terhadap kebenaran dengan penuh keberanian dan ditunjang kekuatan yang memadai.
  • Ustman ibnu Affan adalah seorang pedagang kaya raya yang rela menafkahkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan Muhammad saw. Faktor ketiga yang tidak kalah penting adalah pendanaan. Sebuah kepemimpinan akan lebih lancar apabila ditunjang kondisi ekonomi yang baik dan keuangan yang lancar. Dan juga dibutuhkan pengorbanan yang tulus dari pemimpinnya demi kepentingan orang banyak.
  • Ali ibnu Abi Thalib adalah seorang pemuda yang berani dan tegas, penuh ide kreatif, rela berkorban dan lebih suka bekerja dari pada bicara. Kepemimpinan akan menjadi semakin kuat karena ada regenerasi. Tidak ada pemimpin yang berkuasa selamanya, dia perlu menyiapkan penerus agar rencana-rencana yang belum terlaksana bisa dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
2. Beliau mengutamakan segi kemanfaatan daripada kesia-siaan.
Tidak ada perkataan, perbuatan bahkan diamnya seorang Muhammad yang menjadi sia-sia dan tidak bermakna. Pilihan terhadap kurma, madu, susu kambing dan air putih sebagai makanan yang bermanfaat untuk tubuh adalah salah satu contohnya. Bagaimana sukanya Muhammad terhadap orang yang bekerja keras dan memberikan manfaat terhadap orang banyak dan kebencian beliau terhadap orang yang menyusahkan dan merugikan orang lain adalah contoh yang lain.

3. Beliau mendahulukan yang lebih mendesak daripada yang bisa ditunda.
Ketika ada yang bertanya kepadanya, mana yang harus dipilih apakah menyelamatkan seorang anak yang sedang menghadapi bahaya atau meneruskan shalat, maka beliau menyuruh untuk membatalkan shalat dan menyelamatkan anak yang sedang menghadapi bahaya.

4. Beliau lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.
Ketika datang wahyu untuk melakukan hijrah dari kota Makkah ke Madinah, Muhammad Saw baru berangkat ke Madinah setelah semua kaum Muslimin Makkah berangkat terlebih dulu. Padahal saat itu beliau terancam akan dibunuh, namun tetap mengutamakan keselamatan kaumnya yang lebih lemah.

Ketika etnik Yahudi yang berada di dalam kekuasaan kaum Muslimin meminta perlindungan kepadanya dari gangguan orang Islam di Madinah, beliau sampai mengeluarkan pernyataan : Bahwa barang siapa yang mengganggu dan menyakiti orang-orang Yahudi yang meminta perlindungan kepadanya, maka sama dengan menyatakan perang kepada Allah dan Rasulnya. Padahal tindakan demikian bisa menjatuhkan kredibilitas Beliau di mata kelompok-kelompok etnik Arab yang sudah lama memusuhi etnik Yahudi.

5. Beliau memilih jalan yang tersukar untuk dirinya dan termudah untuk umatnya
Apabila ada orang yang lebih memilih mempersulit diri sendiri dari pada mempersulit orang lain, maka dia adalah para Nabi dan Rasul. Begitu pun dengan Muhammad saw. Ketika orang lain disuruh mencari jalan yang termudah dalam beragama, maka Beliau memilih untuk mengurangi tidur, makan dan shalat sampai bengkak kakinya.

Ketika dia menyampaikan perintah Allah Swt kepada umat untuk mengeluarkan zakat hartanya hanya sebesar 2,5 bagian saja dari harta mereka, dia bahkan menyerahkan seluruh hartanya untuk perjuangan dan tidak menyisakan untuknya dan keluarganya, kecuali rumah yang menempel di samping mesjid, satu dua potong pakaian dan beberapa butir kurma atau sepotong roti kering untuk sarapan. Sampai-sampai tidurnya hanya di atas pelepah korma.

Seperti pernah dia bertanya kepada Aisyah ra. Istrinya apakah hari itu ada sepotong roti kering atau sebiji korma untuk dimakan. Ketika istrinya berkata bahwa tidak ada semua itu, maka Muhammad Saw mengambil batu dan mengganjalkannya ke perut untuk menahan lapar.

6. Beliau lebih mendahulukan tujuan akhirat daripada maksud duniawi
Para Nabi dan Rasul adalah orang-orang terpilih sekaligus contoh teladan bagi kita. Muhammad Saw menunjukkan bahwa jalan akhirat itu lebih utama daripada kenikmatan dunia dengan seluruh isinya ini. Karena pandangannya yang selalu melihat akhirat sebagai tujuan, maka tidak ada yang sanggup menggoyahkan keyakinannya untuk menegakkan kebenaran.
“Seandainya kalian letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, maka aku tidak akan berhenti dalam menyampaikan risalah ini.” 

Demikian Muhammad Saw berkata kepada para pemimpin Quraisy yang mencoba menyuap Muhammad Saw dengan harta benda, menjanjikan kedudukan tertinggi di kalangan suku-suku Arab dan juga menyediakan wanita-wanita cantik asalkan Muhammad Saw mau menghentikan dakwahnya di kalangan mereka.

Pemimpin yang abadi cara berpikir dan pengaruhnya akan terus berjalan sampai akhir zaman. Inilah dasar yang telah diletakkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam membangun peradaban baru, yang sesuai dengan fitrah manusia.

Dengan jelas tersimpul dalam cerita yang diambil dari Ali bin Abi Thalib r.a. ketika ia bertanya kepada Rasulullah dan dijawab :

Ma’rifat adalah modalku, 
Akal pikiran adalah sumber agamaku,
Rindu kendaraanku,
Berzikir kepada Allah kawan dekatku,

Keteguhan perbendaharaanku,
Duka adalah kawanku,
Ilmu adalah senjataku,
Ketabahan adalah pakaianku,

Kerelaan sasaranku,
Faqr adalah kebanggaanku,
Menahan diri adalah pekerjaanku,
Keyakinan makananku,
Kejujuran perantaraku, 
Ketaatan adalah ukuranku,
Berjihad perangaiku,
Dan hiburanku adalah dalam sembahyang.

Itulah kunci dari kepemimpinan rasulullah. Beliau berhasil memimpin dunia dengan suara hatinya, dan diikuti pula oleh suara hati pengikutnya. Dia bukan hanya seorang pemimpin manusia, namun dia adalah pemimpin segenap hati manusia. Ia adalah pemimpin abadi.

"Pemimpin sejati adalah seorang yang selalu mencintai dan memberi perhatian kepada orang lain, sehingga ia dicintai. Memiliki integritas yang kuat, sehingga ia dipercaya oleh pengikutnya. Selalu membimbing dan mengajari pengikutnya. Memiliki kepribadian yang kuat dan konsisten. Dan yang terpenting adalah memimpin berlandaskan atas suara hati yang fitrah."

Beberapa guru leadership barat telah merangkum skill atau kemampuan apa yang harus di miliki seseorang untuk menjadi seorang pemimpin. Seperti yang ditulis oleh guru leadership Burt Nanus dalam Megaskills of Leadership, dan ternyata sudah ada pada diri Nabi Muhammad. Skill apa saja itu?

Berpandangan Jauh
Artinya mata anda harus memandang horizon yang jauh, meskipun kaki anda sedang melangkah ke arahnya.
Nabi Muhammad = Ketika menggali parit (khandaq) di sekitar kota Madinah beliau "melihat" kejayaan Muslim mencapai Syam, Parsi dan Yunani.

Menguasai Perubahan
Artinya anda mengatur kecepatan, arah dan irama perubahan dalam organisasi sehingga pertumbuhan dan evolusinya seiring dengan perubahan dari luar. 
Nabi Muhammad = Hijrah ke Madinah merupakan suatu perubahan yang diprakarsai Muhammd dan mampu mempengaruhi peta dan arah peradaban dunia.


Desain Organisasi
Artinya anda adalah seorang pembangun organisasi yang mempunyai wewenang dan mampu mewujudkan visi yang diinginkan.
Nabi Muhammad = Beliau mendesain bentuk tatanan sosial baru di Madinah segera sesudah beliau hijrah ke kota itu. Misalnya mempersaudarakan muhajirin dan anshar, menyusun piagam Madinah, membangun pasar dan masjid.

Pembelajaran Antisipatoris
Artinya anda pembelajar seumur hidup yang berkomitmen untuk mempromosikan pembelajaran organisasi.
Nabi Muhammad = Beliau selalu mendorong untuk selalu belajar sepanjang hidup. Sabdanya "Tuntulah ilmu sejak dari buaian ibu sampai liang lahat"


Inisiatif
Artinya anda mendemonstrasikan kemampuan untuk membuat berbagai hal menjadi kenyataan.
Nabi Muhammad = Penaklukan Mekkah dengan damai merupkan bukti keberhasilan kepemimpinan Muhammad SAW

Penguasaan Interdependensi
Artinya anda menginspirasi orang lain untuk saling berbagi gagasan dan kepercayaan, untuk berkomunikasi dengan baik dan rutin dan mencari pemecahan masalah secara kolaboratif.
Nabi Muhammad =  Beliau sering meminta pendapat para sahabat dalam persoalan-persoalan strategis misalnya dalam penentuan strategi perang dan urusan sosial kemasyarakatan.

StandarIntegritas Yang Tinggi
Artinya anda fair, jujur, toleran terpercaya, peduli, terbuka, loyal dan berkomitmen terhadap tradisi masa lalu yang terbaik.
Nabi Muhammad = Beliau seorang yang adil dalam memutus perkara, jujur dan toleran terhadap penganut agama lain.

Itulah sekelumit tentang kempimpinan Nabi Muhammad, semoga artikel in bisa menambah pengetahuan anda mengenai bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik.

Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... Amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat..

1. Keyakinan untuk Sukses
Keyakinan adalah kunci kemenangan. Keyakinan adalah pintu untuk membuat perencanaan dan melakukan aksi. Keyakinana akan memberikan sugesti. Memberikan kekuatan dan memberikan energi yang tiada tara.
Keyakinan atau i’tiqad itulah yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Beliau selalu meyakinkan kepada pengikutnya bahwa mereka adalah winner champion sejati. Meskipun yang dihadapi musuh yang kuat bahkan super power sekalipun.
2. Visi dan Misi yang Jelas
Rasulullah saw memiliki visi, misi, dan strategi yang sangat jelas dan terang benderang. Visi adalah tujuan jangka panjang atau sebuah mimpi di masa depan yang hendak kita wujudkan dan hadirkan dengan tekad yang bulat dan kerja yang tidak kenal lelah. Adapun strategi adalah pilihan cara untuk mencapai sebuah visi atau tujuan. Misalnya untuk menghadapi sekutu dalam Perang Khandaq, Rasulullah menggali parit. Begitu pula ketika melawan Quraisy pada Perang Badar, Rasulullah memilih dekat mata air dan menimbun mata air yang lain.
3. Brainstorming
Dalam dunia manajemen dikenal istilah brainstorming. Metode ini sangat bermanfaat untuk menggali ide-ide dari bawahan. Karena kadang ide seorang bawahan sangat brilian. Sekaligus merupakan upaya penghormatan terhadap bawahan, sehingga mereka merasa diperhatikan.
Demikian halnya Rasulullah saw. Beliau adalah manajer yang sangat lihai dalam menggali pendapat bawahannya. Misalnya dalam Perang Badar, Beliau menerima masukan dari Hubab bin Al-Mundzir agar berada dekat mata air dan menimbun mata air lainnya. Ide ini ternyata sangat ampuh. Terbukti umat Islam menang dalam pertempuran tersebut.
4. Musyawarah
Al-qur’an Surat Ali Imran: 159 dan Asy-Syuura: 38 menjadi landasan musyarawah dalam syariat Islam. Rasulullah saw adalah Nabi dan Rasul yang ma’shum atau dipelihara dan selalu dijaga oleh Allah. Namun, dalam mengelola umatnya, Rasulullah saw tetap mengedepankan musyawarah bersama sahabat-sahabatnya dalam mengambil sebuah keputusan.
Di sinilah salah satu kunci keberhasilan Rasulullah saw sebagai seorang pemimpin. Yaitu senang bermusyawarah dalam menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan.
5. Perencanaan yang Matang
Dalam melaksanakan berbagai misinya, Rasulullah saw selalu melakukannya dengan penuh pertimbangan, perhitungan, dan perencanaan yang matang. Rasulullah saw mengawali misi dan tugasnya dengan tahapan-tahapan yang sangat jelas. Siapa melakukan apa, di mana, mengapa, dengan cara apa, dan kapan, adalah hal yang biasa bagi Rasulullah saw. Prinsip-prinsip perencanaan pun beliau terapkan dengan sangat baik. Demikian halnya dengan berbagai antisipasinya.
6. Strong Leadership
Yang dimaksud dengan Strong Leadership di sini adalah kepemimpinan yang tegas, berwibawa, berkharisma, dan teguh dalam memegang prinsip-prinsip organisasi. Rasulullah saw dan sahabat adalah sosok yang memiliki kepemimpinan yang kuat. Kepemimpinan ini dibangun atas nilai-nilai, budaya dan norma-norma yang kokoh. Dibangun di atas ilmu, cinta, taat, dan kasih sayang. Ditegakkan dengan hukum dan disiplin tinggi serta ditunjang dengan akhlak yang mulia dan penuh keseriusan.
7. Intelijen
Salah satu kunci sukses Rasulullah saw adalah kelihaiannya dalam memanfaatkan intelijen dalam berbagai peperangan. Data-data hasil pemantauan, pengamatan, dan audit tersebut kemudian dikumpulkan untuk dijadikan sebagai alat untuk pengambilan keputusan. Sehingga keputusan yang diambil didasarkan pada fakta-fakta yang sebenarnya.
8. Team Work
Kerja sama tim merupakan kunci sukses dakwah Rasulullah saw. Kerja sama tersebut kadang dilakukan dalam bentuk yang besar maupun kecil. Contohnya dalam hijrah ke Madinah, Rasulullah membentuk tim kecil yang dipimpin oleh Beliau dengan pembagian tugas, tanggung jawab, wewenang, dan strategi yang mengagumkan.
9. Komunikasi
Rasulullah adalah pribadi yang sangat komunikatif. Komunikasi Beliau melibatkan hati, perasaan, pikiran, dan tindakan yang nyata. Sehingga pesan yang disampaikan sangat mempengaruhi hati, akal, dan jiwa bawahannya. Komunikasi yang dilakukan oleh Rasulullah sangat beragam, mulai dari perkataan yang baik, perbuatan sebagai teladan yang baik, memberi makan fakir-miskin, dan terkadang bercanda dengan memeluk sahabat-sahabatnya.
10. Turut dalam Suka dan Duka
Suka dan duka adalah hal yang biasa dalam kehidupan. Seorang pemimpin harus memahami itu semua. Karena itu ia dituntut untuk memiliki sifat sensitif dan peduli kepada anak buah dan rekan kerjanya. Rasulullah saw adalah contoh terbaik dalam masalah sensitif dan kepedulian kepada sesama. Beliau turut dalam suka dan duka bersama sahabatnya. Beliau bukan tipe pemimpin yang enaknya saja sebagaimana para pimpinan masa kini pada umumnya.
11. Penugasan Secara Bergilir
Rasulullah saw memberikan tugas kepada para sahabat secara bergantian. Hal ini bertujuan utnuk melatih anak buah untuk menempati berbagai penugasan dan berbagai posisi yang berbeda. Dengan demikian, akan lahir calon-calon pemimpin yang sudah matang dan memiliki jam terbang yang tinggi.
12. Pejabat Sementara
Salah satu tips Rasulullah saw untuk menyiapkan kader yang hebat yaitu dengan menunjuk pejabat sementara ketika Beliau harus meninggalkan Madinah. Penunjukan seperti itu memiliki banyak manfaat. Antara lain agar tidak terjadi kekosongan kepemimpinan dalam suatu organisasi dalam menjalankan tugas, tanggung jawab, dan wewenangnya. Untuk melihat dan menilai kompetensi anak buah dalam mengemban tugas yang lebih berat. Serta sebagai sarana untuk promosi atau pengembangan karir.
13. Administrasi yang Baik
Rasulullah saw juga melakukan sistem administrasi yang sangat baik. Ini dibuktikan dengan adanya piagam Madinah, perjanjian Hudaibiya, serta dakwah melalui surat kepada para raja. Bahkan Rasulullah saw memiliki sekretaris pribadi yang bertugas mencatat wahyu dan segala apa yang terjadi di Madinah.
14. Memberikan Pujian
Rasulullah saw adalah manusia yang paling banyak memberikan pujian dan motivasi kepada para sahabatnya. Beliau lebih banyak memberikan reward daripada punishment. Beliau juga sering memberikan gelar yang indah dan bagus, baik terhadap istri-istrinya maupun sahabat-sahabatnya.
15. Berdoa
Sehebat apapun keahlian kita, sekeras apapun kerja kita, seteliti apapun perencanaan kita, selihai apapun strategi kita, dan sebanyak apapun fasilitas yang kita miliki. Semuanya tidak akan maksimal tanpa didukung dengan doa.Doa tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia. Rasulullah saw sangat memahami hal ini, karena itu Beliau banyak berdoa. Beliau mengajarkan doa-doa kepada kita untuk menyempurnakan keberhasilan.
16. Senyum
Rasulullah saw tersenyum ketika bertemu dengan sahabatnya, saat beliau menahan amarah, atau ketika beliau berada di majelis peradilan sekalipun. Beliau tersenyum dari bibir yang lembut, mulia nan suci ini, sampai akhir detik-detik hayat beliau. Sehingga tidak mengherankan beliau mampu meluluhkan kalbu sahabat-sahabatnya, istri-istrinya dan setiap orang yang berjumpa dengannya.
Demikianlah kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya dan dapat menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari, karena pada hakikatnya masing-masing dari kita adalah pemimpin, setidaknya bagi diri kita sendiri. Wallahu a’lam bishshowab.
Berbagai teori-teori kepemimpinan yang dikemukakan oleh para guru leadership, to some extent ditemukan pada pribadi dan kepemimpian Muhammad SAW. Salah satu teori dikemukakan oleh Kets de Vries yang menyimpulkan dari penelitian klinisnya terhadap para pemimpin bahwa sebanyak prosentase tertentu dari para pemimpin itu mengembangkan kepemimpinan mereka karena dipengaruhi oleh trauma pada masa kecil mereka.

Muhammad SAW mengalami masa-masa sulit diwaktu kecilnya. Di usia dini beliau sudah menjadi yatim piatu. Pada kanak-kanak itu pula beliau harus menggembala ternak penduduk Makkah. Di awal usia remaja beliau sudah mulai belajar berdagang dengan mengikuti pamannya Abu Thalib berdagang ke daerah-daerah sekitar Jazirah Arab.

Beberapa teori kepemimpinan lainnya juga dapat ditemukan pada diri Muhammad SAW. Misalnya, empat fungsi kepemimpinan (the 4 roles of leadership) yang dikembangkan oleh Stephen Covey. Konsep ini menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki empat fungsi kepemimpinan, yakni sebagai perintis (pathfinding), penyelaras (aligning), pemberdaya (empowering), dan panutan (modeling).

Fungsi perintis (pathfinding) mengungkap bagaimana upaya sang pemimpin memahami dan memenuhi kebutuhan utama para stakeholder-nya, misi dan nilai-nilai yang dianutnya, serta yang berkaitan dengan visi dan strategi, yaitu kemana perusahaan akan dibawa dan bagaimana caranya agar sampai kesana.

fungsi ini ditemukan pada diri Muhammad SAW karena beliau melakukan berbagai langkah dalam mengajak umat manusia ke jalan yang benar. Muhammad SAW telah berhasil membangun suatu tatanan sosial yang modern dengan memperkenalkan nilai-nilai kesetaraan universal, semangat kemajemukan dan multikulturalisme, rule of low, dan sebagainya. Sistem sosial yang diakui terlalu modern dibanding zamannya itu dirintis oleh Muhammad SAW dan kemudian dikembangkan oleh para khalifah sesudahnya.

Fungsi penyelaras (aligning) berkaitan dengan bagaimana pemimpin menyelaraskan keseluruhan sistem dalam organisasi perusahaan agar mampu bekerja dan saling sinergis. Sang pemimpin harus memahami betul apa saja bagian-bagian dalam sistem organisasi perusahaan. Kemudian, ia menyelaraskan bagian-bagian tersebut agar sesuai dengan strategi untuk mencapai visi yang telah digariskan.

Muhammad SAW mampu menyelaraskan berbagai strategi untuk mencapai tujuannya dalam menyiarkan ajaran islam dan membangun tatanan sosial yang baik dan modern. Ketika banyak para sahabat yang menolak kesediaan beliau untuk melakukan perjanjian perdamaian Hudaybiyah yang dipandang menguntungkan pihak musyrikin, belaiu tetap bersikukuh dengan kesepakatan itu. Terbukti, pada akhirnya perjanjian tersebut berbalik menguntungkan kaum Muslim dan pihak musyrikin meminta agar perjanjian itu dihentikan. Beliau juga dapat membangun sistem hukum yang kuat, hubungan diplomasi dengan suku-suku dan kerajaan di sekitar Madinah, dan sistem pertahanan yang kuat sehingga menjelang beliau wafat, Madinah tumbuh menjadi baru yang cukup berpengaruh pada waktu itu.

Fungsi pemberdaya (empowering) berhubungan dengan upaya pemimpin untuk menumbuhkan lingkungan agar setiap orang dalam organisasi perusahaan mampu melakukan yang terbaik dan selalu mempunyai komitmen yang kuat (committed). Seorang pemimpin harus memahami sifat pekerjaan atau tugas yang diembannya. Ia juga harus mengerti dan mendelegasikan seberapa besar tanggung jawab dan otoritas yang harus dimiliki oleh setiap karyawan yang dipimpinnya. Siapa mengerjakan apa. Untuk alasan apa mereka mengerjakan pekerjaan tersebut. Bagaimana caranya. Dukunga sumberdaya apa saja yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dan bagaimana akuntabilitasnya.

Sejarah kenabian (sirah nabawiyah) menceritakan kecakapan Muhammad SAW dalam mensinergikan berbagai potensi yang dimiliki oleh para pengikutnya dalam mencapai suatu tujuan. Sebagai contoh, dalan mengatur strategi dalam perang Uhud, beliau menempatkan pasukan pemanah di punggung bukit untuk melindungi pasukan infantri Muslim. Beliau juga dengan bijak mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar ketika mulai membangun masyarakat Madinah. Beliau mengangkat para pejabat sebagai amir (kepala daerah) atau hakim berdasarkan kompetensi dan good track record yang mereka miliki. Tidak heran, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama (sekitar 10 tahun), beliau telah mampu mendirikan dasar-dasar tatanan sosial masyarakat modern. Pemimpin dunia lainnya mungkin butuh waktu yang lebih lama untuk mencapai hal semacam itu.

Fungsi panutan (modeling) mengungkap bagaimana agar pemimpin dapat menjadi panutan bagi para karyawannya. Bagaimana dia bertanggung jawab atas tutur kata, sikap, perilaku, dan keputusan-keputusan yang diambilnya. Sejauh mana dia melakukan apa yang dikatakannya.

Muhammad SAW dikenal sangat kuat berpegang pada keputun yang telah disepakati. Menjelang perang Uhud, suara- suara yang menginginkan agar kaum Muslim 'menyambut' pasukan musyrik di luar Madinah lebih banyak dari pada yang ingin bertahan di pinggiran Madinah. Rasulullah SAW pun pada awalnya memilih pendapat yang kedua. Tetapi karena mengikuti prosedur suara terbanyak, akhirnya diambil keputusan untuk menyongsong pasukan Makkah di luar Madinah. Belakangan para sahabat menyadari bahwa mereka terlalu memaksakan kehendak mereka terhadap Muhammad SAW dan meminta beliau untuk memutuskan apa yang menurut beliau dan Allah merupakan jalan terbaik. Menyikapi hal ini Muhammad SAW menjawab dengan tegas :

"Ke dalam pembicaraan yang semacam inilah saya ajak kalian tapi kalian menolak. Tidak layak bagi seorang nabi yang apabila sudah mengenakan baju besinya lalu akan menanggalkanya kembali sebelum Tuhan memberikan putusan antara dirinya dan musuhnya. Perhatikan apa yang saya perintahkan kepada kamu sekalian dan ikutilah! Atas ketabahan hatimu, kemenangan akan berada di tanganmu."

Beliau juga merupakan seseorang yang melaksanakan apa yang beliau katakan (walk the talk). Beliau sangat membenci orang yang mengatakan sesuatu tetapi tidak melaksanakan apa yang dikatakannya itu.

Rasulullah SAW menjadi panutan dalam melaksanakan nasehat dan saran-sarannya demikian juga dalam menjadi pribadi yang mulia. Beliau adalah seorang yang sangat dermawan kepada siapapun yang datang dan meminta pertolongan jauh sebelum mengatakan, "Tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah."

Beliau memikul batu, mengambil skop tanah ketika membangun Masjid Nabawi, membawa linggis ketika menggali parit (Khandaq) waktu mengajak ummatnya, "Mari membangun bersama." Sebelum bersabda, "Yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik dengan keluarganya," beliau mencontohkan kelemahlembutan terhadap anggota keluarganya.

Masih banyak bukti-bukti kepemimpinan yang baik sebagaimana yang dikemukakan oleh para guru kepemimpinan dan manajemen modern terdapat pada diri Muhammad SAW, tentu saja kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW tidak harus menunggu pembenaran dari teori-teori kepemimpinan dan manajemen modern karena apa yang beliau contohkan telah terbukti berhasil.

Banyak orang memandang pemimpin itu sebagai jabatan yang menyenangkan. Anggapan itu berdasar perspektif mereka bahwa “kalau kita menjadi pemimpin semuanya terserah kita”. Hal itu tentu menjadi keinginan setiap manusia. Betapa indahnya memimpin! Sesempit itukah wawasan anda! Coba kita memandang dari sudut yang lebih luas. Apakah pemimpin kerjanya hanya mengatur? Bagaiman kondisi yang diatur? Mau dibawa kemana setiap hal yang kita pimpin? Banyak sekali pertanyaan yang tentunya menjadi tanggung jawab seorang pemimpin. Kita ambil contoh kepemimpinan yang ada di negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurunya integritas pemimpin di Indonesia menjadikan obyek dari subyektivitas kepemimpinan mengalami degradasi, tebukti dengan semakin hancurnya moral Bangsa Indonesia. Korupsi, pornografi, pornoaksi, narkoba, dan banyak lainya semakin merajalela di Indonesia. Krisis keteladanan dari pemimpin kita bahkan kita (orang yang dipimpin) yang menjadikan korelasi antara pemimpin dan yang dipimpin tidak bersatu. Mengetahui hal itu tentunya kita mulai bertanya. Siapakah manusia yang patut untuk kita jadikan teladan dan diharapkan suri tauladanya dapat growing up kepemimpinan di Indonesia? Tak lain dan tak bukan manusia itu adalah Nabi Muhammad Saw.
Sosok Nabi Muhammad Saw memberi sesuatu yang patut untuk diteladani oleh semua umat manusia. Suri tauladan yang diberikan beliau kepada kita mencakup semua spektrum kehidupan. Rumah tangga membutuhkan ayah yang penuh perhatian, perusahaan membutuhkan pebisnis yang kompeten dan percaya diri, dunia pendidikan membutuhkan pendidik yang pinter ngomong. Dari pernyataan di atas, teladan kepemimpinan itu sesungguhnya terdapat pada diri Rasulullah Saw karena beliau adalah pemimpin yang holistic, accepted, dan proven.
Rasulullah Saw adalah pemimpin yang holistic (menyeluruh). Beliau adalah pemimpin yang mampu mengembangkan leadership dalam berbagai bidang, diantaranya: self development, bisnis dan kewirausahaan, kehidupan rumah tangga yang harmonis, tatanan masyarakat yang akur, sistem politik yang bermartabat, sistem pendidikan yang bermoral dan mencerahkan, sistem hukum yang berkeadilan, dan strategi pertahanan yang jitu serta memastikan keamanan dan perlindungan warga negara. Rasulullah adalah pemimpin yang accepted (diterima) dan proven (terbukti). Kepemimpinan Rasulullah diakui lebih dari 1,3 miliyar oleh setiap manusia. Hingga sampai saat inipun kepemimpinan beliau sudah terbukti dan masih relevan untuk dipakai.
Teladan kepemimpinan Rasulullah Saw tercermin ketika beliau masih kecil hingga beranjak dewasa. Dalam perjalanan kepemimpinan Rasulullah Saw, beliau selalu memberi teladan kepada sahabat baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dr. Muhamad Syafi’I Antonio dalam bukunya Muhammad Saw The Super Leader Super Manager menyebutkan bahwa self leadership merupakan dasar dari segala bentuk kepemimpinan. Tanpa adanya kepemimpinan diri dengan baik, sebuah kepemimpinan mustahil terealisasi. Pada giliranya, memimpin diri sendiri berarti mengembangkan kemampuan dan proses untuk mengalami tingkat self identity (pengenalan diri) yang lebih tinggi, melebihi tingkat ego reaktif. Hal ini memfasilitasi perjalanan dari reactive constraints (batas reaktif) ke keberanian untuk proaktif dan pada akhirnya membawa pada kesadaran reaktif. Suatu sintesa antara kecerdasan intelektual, intuitif, dan emosi. Dengan demikian memungkingkan seseorang untuk mampu mengelola hubungan dengan orang lain, peristiwa, dan gagasan yang merupakan esensi dari leadership.
Dalam usaha meningkatkan kepemimpinan diri tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pasti ada pelbagai macam kendala yang membuat sulitnya tercapai kepemimpinan diri yang baik. Dua diantara pelbagai macam kendala tersebut, yaitu: hawa nafsu dan disiplin diri. Setelah Perang Badar Al-kubro Nabi Muhammad Saw pernah berpesan kepada sahabat bahwa perang yang paling besar ialah perang melawan hawa nafsu. Sulitnya memerangi hawa nafsu membuat kita terlena akan kenikmatan dunia. Ketika kita dikuasai nafsu,penguasaan akan diri akan sulit dikendalikan. Perlu tindakan lebih serius dalam mencegah hawa nafsu kita. Lebih-lebih tindakan yang dilakukan dari dalam diri kita sendiri, misalnya: mengerti yang baik dan buruk, menumbuhkan motivasi, berfikir kedepan, dan sebagainya. Sehingga diri kita tidak dikendalikan nafsu tapi kitalah yang mengendalikan nafsu.
Self discipline tentu menjadi perhatian kedua setelah hawa nafsu. Self discipline merupakan menegakkan disiplin atas diri pribadi. Kendornya Self discipline tidak lain karena aktivitas itu hanya berkaitan dengan dirinya sendiri tanpa melibatkan orang lain. Seringnya memaafkan diri sendiri memacu terjadinya ketidakdisiplinan diri. Beda halnya ketika orang lain melakukan pelanggaran akan disiplin, tentunya sulit bagi kita untuk memaafkan orang tersebut bahkan memungkinkan untuk memberi hukuman kepada mereka yang melanggar. Oleh karena itu kegiatan memaafkan diri sendiri perlu ditiadakan dan semangat akan kedisiplinan perlu ditingkatkan.
Dari pelbagai uraian diatas, kesemua suri tauladan itu terdapat pada diri Nabi Muhammad Saw. Permasalahan dari pelbagai kepemimpianan bisa kita selesaikan dengan meneladani beliau. Kurangnya mengenal profil Rasulullah Saw menjadi kendala bagi kita, umat islam atau non islam, dalam mengembangkan kepemimpinan. Maka dari itu, kenalilah sosok Nabi Muhammad Saw yang holistik dan aplikasikan suri tauladan beliau dalam kehidupan sehari-hari. Semoga dengan uraian diatas membuat kita terpacu untuk lebih mengenal beliau demi meningkatkan jiwa kepemimpinan kita.
Amin.

Berhasil tidaknya kepemimpinan seseorang dapat ditandai dengan sejauh mana nilai-nilai kasih sayang yang ditanamkannya untuk rakyat.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. al-Anbiya‘ ayat 107).

Berhasil tidaknya kepemimpinan seseorang dapat ditandai dengan sejauh mana nilai-nilai kasih sayang yang ditanamkannya untuk rakyat. Barometernya dapat diukur melalui respon yang diberikan oleh pemimpin terhadap penderitaan rakyatnya. Selain itu, dapat juga dilihat melalui antusiasnya menggiring rakyat untuk menuju kehidupan yang sempurna.

Pemimpin yang memiliki jiwa kasih sayang akan selalu mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi dan keluarganya. Melalui prinsip ini maka antara pemimpin dan rakyat akan seia-sekata dalam membawa negara menuju cita-cita luhurnya. Berdasarkan sifat ini pula maka pemimpin dan rakyat akan berani berkorban untuk kepentingan bangsa dan negaranya.

Adapun pemimpin yang berani melakukan tindakan yang sama sekali tidak memihak kepada rakyat seperti korupsi, membeking tindakan-tindakan spekulan dan lain-lain adalah ciri dari pemimpin yang nihil dari sifat kasih sayang. Pemimpin yang seperti ini tidak akan mampu berbuat banyak untuk kepentingan rakyat dan bahkan rakyat pulalah yang selalu menjadi korban dari kebijakannya.

Ayat di atas menyebutkan bahwa pengutusan Nabi Muhammad adalah membawa rahmat bagi sekalian alam. Maknanya ialah bahwa rahmat yang dibawa oleh Nabi Muhammad tidak hanya dirasakan oleh manusia saja, bahkan makhluk-makhluk yang lainpun turut merasakan arti kasih sayang dari Nabi Muhammad. Pola kepemimpinan yang berbasis kasih sayang seperti Nabi Muhammad inilah yang sudah kita rindukan selama berabad-abad.

Kesuksesan yang diraih oleh Nabi Muhammad selama kepemimpinannya diduga kuat karena pola yang dibangunnya berbasis kasih sayang. Ketika pola ini dipublikasikan, maka orang-orang yang dekat dengannya berani mengorbankan apa saja yang mereka miliki. Tentu saja antusias ini diawali dari bobroknya moral pemimpin yang selama ini mengurusi mereka. Apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ini memang sudah wajib untuk dicontoh karena banyaknya rakyat yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang dibuat oleh pemimpinnya. Beda halnya dengan Nabi Muhammad dimana kepemimpinannya selalu diidolakan oleh rakyat dan hanya orang-orang yang berpikiran jelek sajalah yang menantang pola kepemimpinan yang seperti ini.

Nilai-nilai Kasih Sayang dalam Kepemimpinan Nabi Muhammad
Gambaran kepemimpinan Nabi Muhammad yang diekspose oleh orang-orang yang tidak memahaminya, seperti alQur‘an di tangan kiri dan pedang ditangan kanan, sama sekali tidak mengurangi nilai-nilai kasih sayang pada kepemimpinan Nabi Muhammad. Hal ini sangat tergantung dari sisi mana seseorang melakukan penilaian, bahkan gambaran seperti ini menunjukkan betapa tidak ragu-ragunya Nabi Muhammad dalam menegakkan suara kebenaran.

Banyaknya perang yang dilakukan oleh Nabi Muhammad sedikitpun tidak mencederai nilai-nilai kasih sayang dalam kepemimpinannya. Hal ini dilakukan oleh beliau karena panggilan kasih sayang itu sendiri lantaran banyak rakyat yang tertindas karena ulah kezaliman pemimpinnya. Dengan kata lain, perang yang dilakukan oleh Nabi Muhammad karena munculnya kezaliman di masyarakat. Bila orang-orang yang anti kepada Nabi Muhammad menyatakan bahwa beliau adalah sosok pemimpin yang haus perang, sedangkan Allah memberikan sanjungan karena kasih sayangnya, maka secara otomatis pernyataan Allah lebih patut untuk diperpegangi. Oleh karena itu, sedikitpun tidak ada rasa kekhawatiran dari gambaran yang dibuat oleh orang-orang yang memang dasarnya sinis.

Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad telah berhasil menanamkan nilai-nilai kasih sayang di era kepemimpinannya. Pemimpin-pemimpin Quraisy yang dulunya dikenal dengan kebengisan dan tidak berprikemanusiaan akhirnya tunduk di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad. Sikap ini perlu juga menjadi perhatian pemimpin pada saat ini, dimana setiap pendekatan yang dilakukan tidak mesti harus menggunakan ‘tangan besi’. Pengembangan pembangunan meskipun juga untuk kepentingan rakyat seperti pelebaran jalan dan lain-lain harus dikomunikasikan dengan nilai-nilai kasih sayang. Jika hal ini dapat dilakukan dengan baik, maka rakyatpun tidak akan pernah merasa keberatan jika harta bendanya tergusur, dan bahkan mereka merasa bangga telah dapat berkorban untuk kepentingan negaranya.

Ketika nilai-nilai kasih sayang ini ternafi dalam kehidupan pemimpin maka terjadilah ketidakpuasan di tengah-tengah rakyat. Upaya yang seperti ini juga pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad, akan tetapi tidak ada yang namanya protes, bahkan yang terjadi sebaliknya di mana rakyat ramai-ramai menyumbangkan apa yang mereka miliki. Kejadian yang seperti ini tentu saja diawali dari watak pemimpinnya yang selalu mengedepankan prinsip dan nilai-nilai kasih sayang. Nilai-nilai kasih sayang Nabi Muhammad ini tidak datang secara spontanitas, akan tetapi sudah ada sebelum beliau menjadi pemimpin. Oleh karena itu, ketika Nabi Muhammad menerapkan pola kasih sayang ini, maka tidak ada satupun yang mencurigainya.

Berlainan halnya dengan kondisi sekarang yang bagaimanapun upaya pemimpin untuk menerapkan nilai-nilai kasih sayang tersebut, tetap saja dicurigai oleh rakyat. Hal ini sangat beralasan karena pemimpin yang bersangkutan tidak biasa-biasanya melakukan hal yang seperti itu kecuali jika memang ada maunya, terlebih lagi jika hendak menghadapi musim pilkada tiba. Penggunaan pola kasih sayang dalam kepemimpinan Nabi Muhammad diawali dengan kecerdasannya menangkap nilai-nilai kasih sayang Allah. Kedekatannya dengan Allah membuatnya tidak canggung melakukan pola kasih sayang ini, sehingga makhluk-mahkluk yang lainpun dapat merasakan bahwa kepemimpinan Nabi Muhammad benar-benar membawa rahmat.

Pola kasih sayang yang diterapkan oleh Nabi Muhammad ini membuat namanya diabadikan Allah dalam al-Qur‘an sebagai sosok pemimpin yang membawa rahmat. Artinya, tidak ada seorangpun yang merasakan bahwa pola kepemimpinan Nabi Muhammad ini merugikan rakyat dan bahkan mereka merasa terlindungi dengan kehadiran beliau. Berdasarkan uraian di atas maka pola kepemimpinan yang menerapkan nilai-nilai kasih sayang akan mudah diterima oleh rakyat. Implikasi yang mudah dirasakan adalah munculnya semangat bersama untuk memajukan bangsa dan negara bersama-sama rakyat. Bila hal ini terealisasi, maka setiap kebijakan yang dilakukan senantiasa mendapat dukungan yang signifikan.

Ungkapan al-Qur‘an terhadap pola kepemipinan Nabi Muhammad di atas adalah sebagai contoh riil dari pemimpin yang sukses. Untuk mencontoh pola yang seperti ini, diperlukan kecerdasan dalam membaca tanda-tanda zaman karena rakyat yang dihadapi oleh Nabi Muhammad berbeda jauh dengan rakyat yang dihadapi pada masa sekarang. Oleh karena itu, yang patut untuk dilakukan adalah mengkaji nilai-nilai filosopis yang terkandung dalam pola kasih sayang kepemimpinan Nabi Muhammad. Bila hal ini dilakukan maka muncullah pemimpin-pemimpin yang benar-benar berjiwa qur‘ani bukan hanya sekadar pandai membaca al-Qur‘an. Dampak yang akan dirasakan adalah bersatunya pemimpin dan rakyat di bawah panji-panji kasih sayang sehingga berpadu dalam kesenangan dan penderitaan.

Penutup
Kepemimpinan yang membawa manfaat sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai kasih sayang yang diembannya sehingga penerapan nilai-nilai inilah yang selalu membuat sosok kepemimpinan seseorang melegendaris dalam kehidupan. Sebaliknya bagi yang kurang menerapkan nilai-nilai kasih sayang akan selalu membawa dampak negatif dan bahkan tidak jarang masyarakat menyumpahserapahinya, dan akhirnya pemimpin tersebut menyudahi masa kepemimpinannya secara tragis.

Wassalamu'alaikum wr. wb.